THE SONG OF DAJANG RINDOE

SINOPSIS :

Di sebuah masa, di sebuah tempat, tersebutlah seorang gadis yang sangat jelita. Kecantikannya menyebar ke segenap negara. Ia adalah putri mahkota Kerajaan Tanjung Iran. Gadis itu bernama Dayang Rindu yang kala itu telah diperjodohkan dengan Ki Bayi Radin anak Batin Pasak di Rambang.  Keduanya saling mencintai dan telah mengikat janji.  Tapi apa mau dikata, keduanya urung bersatu lantaran utusan Pangiran Riya keburu datang untuk meminang.  Disebutkan bahwa kecantikan Dayang Rindu membuat Pangiran Riya mabuk kepayang.  Lalu ia memerintahkan Temenggung Itam dan Ki Bayi Metig beserta segenap pasukan untuk memboyong Dayang Rindu ke Palembang meskipun harus meleburkan Tanjung Iran.  Wayang Semu, ayah Dayang Rindu, menolak lamaran Pangiran. Kemudian terjadilah perang antara Kerajaan Palembang dan Tanjung Iran. Bagaimana nasib Dayang Rindu dan cintanya?

 

UPAYA UNTUK MENJADI PEMULA

Sebentuk pertunjukan yang berlangsung di atas panggung adalah sebuah dunia yang baru, sebuah alternatif.  Karena itu dibutuhkan cara pandang yang baru untuk melihatnya. Ia butuh cara dengar yang baru untuk menyimaknya. Ia butuh cara berpikir yang baru untuk memahaminya.  Sebentuk pertunjukan yang berlangsung di atas panggung adalah sebuah dunia alternatif.

Model dunia alternatif biasanya disusun untuk memutus rantai otomatisasi persepsi penyimak terhadap objek, dalam terminologi Viktor Shklovsky.  Objek yang selama ini dikurung dalam anggapan-anggapan sebagai ‘hal yang telah dan lazim dikenal’ tiba-tiba menjadi terasa asing dan unik. Objek pada titik ini seperti mengelak dari prasangka. Sebuah kenyataan baru karena itu terbuka. Mungkin saja penyimak tak memahami lantas menggerutu atau malah seperti menghirup selarik udara yang terasa lebih murni dan segar. Sebenarnya—itulah hakikat dari penciptaan karya seni. Objek ini bisa saja kita namai tema-tema tertentu, cerita tertentu, benda tertentu, fakta tertentu, mitos dan sejarah tertentu, tokoh tertentu, benda tertentu, cara bertutur tertentu, cara menyusun plot tertentu, atau ruang, waktu, dan cara bergerak tertentu.

 

Karena itu kerja yang harus dilakukan oleh para performer seni adalah kerja yang serius dan harus penuh kesungguhan. Sebelum menyusun model dunia baru ia harus terlebih dahulu meninggalkan, meski sejenak, dunia lama yang kini didiaminya. Ia terlebih dahulu harus menjadi ‘saksi’ bagi kehadiran persepsi baru itu di dirinya sendiri. Karena tak mungkin penyimak akan mendapatkan perspektif baru dari sebentuk karya bila si penglakunya sendiri belum kunjung menemukan kebaruan cara pandangnya terhadap kenyataan yang telah ada. Dan kebaruan perspektif ini, bagi diri penglaku, tak hanya sekadar bersifat teoritik dan filosofis. Kebaruan perspektif haruslah sampai pada level praktik dan biologis.

Sungguh, pada fase ini seorang penglaku teater haruslah berusaha untuk menjadi pemula. Perhitungannya bukanlah kepada apa yang akan terjadi di dalam benak para penonton pertunjukkannya. Perhitungannya mula-mula akan tertuju dan selalu tertuju pada dirinya sendiri—pada pretensi-pretensinya,  bagaimana ia berhadapan secara langsung dengan persepsi lama akan dunia yang sendari kecil telah disusun lingkungan untuknya,  berikut tafsir yang ia berikan bagi akulturasi psikologis dan sosiologis yang menjadi kenyataan pikiran, emosi, dan fisikalnya—berikut fiksi yang akan dikonstruksinya berdasarkan kerja penciptaan dan pemanggungan teater.

Seorang penglaku teater yang berhasil membersihkan perhitungan-perhitungan dengan dirinya sendirilah yang akan bisa bertindak sebagai pemula di pertunjukan. Seorang pemula akan menjadi saksi bagi hadirnya sebuah dunia alternatif, sebuah dunia yang berada pada level yang lebih dalam dari kenyataan sehari-hari, syahadah. Ya, pada situasi ini, pertunjukan akan menjelma menjadi sebentuk ‘kesaksian’ dan penglaku akan menjadi ‘saksi pertama’ yang menjadi media bagi model dunia baru untuk hadir di sini dan saat ini sekaligus berbagi dan merayakan pengalamannya kepada penonton yang pada level tertentu secara otomatis akan menjadi ‘saksi kedua’. Pertunjukan teater karena itu sejatinya bersifat upacara, merayakan secara bersama-sama sebuah kesaksian, ketika antara penglaku dan penyimak pada titik tertentu menjadi lebur—ummah, ketika pertunjukan telah menjadi gelanggang bersama bertemunya dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah, ketika pertunjukan secara serentak menjadi arena menikahnya antara pikiran, perasaan, dan fisikal—sakinah.

Sebentuk pertunjukan yang berlangsung di atas panggung yang telah menjelma menjadi sebentuk dunia alternatif karena itu tak lagi harus mengacu pada kebenaran-kebenaran di luar dirinya. Ia mengacu pada ontologinya sendiri, ia menyusun epsitemologinya sendiri. Ia tetap harus berpijak pada fakta dan kebenaran-kebenaran objektif, tapi bukan pada fakta dan objektifitas yang berada di luar sangkarnya. Fakta dan objektifitas ini lahir dari tuntutan-tuntutan otentik dari hukum penciptaan dan pemanggungan. Pertunjukan semacam ini, apa pun genrenya, haruslah realistik, meskipun tak harus memainkan realisme. Sebentuk pertunjukan adalah dunia tandingan, model yang berkehendak untuk menjadi lebih dalam atau bahkan menjadi oposisi dari dunia yang telah ada. Ia menjadi subversi justru karena ia memberikan versi yang tak sama.

Dalam dunia alternatif (dan substansial) semacam ini maka penyimak  akan berperan lebih dari sekadar penonton. Ia telah menjadi saksi. Hanya saja penonton yang berkehendak untuk menjadi saksi terlebih dahulu harus membuka dirinya untuk sesuatu yang berbeda. Penonton yang telah menjadi saksi adalah penyimak yang mengelak dari anggapan-anggapan yang disusunnya sendiri. Penonton yang saksi adalah penonton yang membangun semacam medan semantik baru di kepalanya, yang sejenak meletakkan sistem ontologi dan epistemologinya terhadap berbagai definisi dan ciri-ciri dari suatu karya seni. Saksi adalah ia yang enggan berpegang pada masa lalu. Ia hanya berkehendak untuk hadir di saat ini, di sini. Ia seperti seorang pemula, yang berdiri kukuh di pangkal sebentang jalan, tak sungkan menatap jauh gurun di depan, tak gentar oleh bisik dan hasut pengalamannya di belakang.

Sebentuk pertunjukan sesungguhnya berkehendak untuk membuat para penglakunya menemukan yang mula-mula dalam dirinya sendiri dan menjadi pemula saat ia berhadapan dengan kenyataan sehari-harinya yang artifisial.

 

2011-2012 – “The Song Of Dayang Rindu (Traveling Back To The Source).” Pementasan dilakukan pada 31 Maret, 16-17 Juli, 1-2 Desember 2012 di GTT Taman Budaya Lampung. Satu pertunjukan sebagai pelacakan sumber gerak seni Lampung dan Melayu. Pementasan The Song Of Dayang Rindu adalah peraih Hibah Seni Yayasan Kelola untuk kategori Hibah seni karya Inovatif 2012.

Share your thoughts