LEAR

Merupakan pertunjukan teater yang menggunakan (mengafirmasi-mentransformasi—menegasi) teks “Lear (Asia Version)” karya Rio Kishida sebagai titik tolak kisah dan tematiknya. Tema ini menjadi ­Up to Date di tahun politik ini, belum lagi kita akan menghadapi Pilpres di tahun depan, di mana pengukuhan atau pengalihan penguasa dan kekuasaan akan terjadi di Indonesia.

Pembacaan atas “Lear” dilakukan dalam perspektif Lacanian untuk mendapatkan kesegaran interpretasi terhadap tema dan peristiwa. Alienasi yang merupakan sifat primordial dan inheren dalam diri manusia (yang merasa dirinya Subjek utuh) terwakili dalam diri Lear dan tokoh-tokoh lainnya. Kisah ini mencerminkan secara langsung bagaimana bahasa, yang merupakan manifestasi dari struktur simbolik, mengurung dan mengarahkan subjek (manusia) untuk secara permanen menghasrati hasrat the others bagi pengukuhan eksistensinya—ihwal yang bisa kita lihat secara eksplisit (dan kadang begitu murahan) dalam kontestasi politik di Republik Indonesia tercinta.

Tafsir dalam perspektif ini mau tak mau akan berimplikasi dan termanifestasi secara langsung pada dramaturgi naratif dan dramaturgi organik (meminjam terminologi Barba) di atas panggung. Ada beberapa implikasi yang bisa terjadi di panggung, antara lain, 1) dialog-dialog para karakter yang ada dalam kisah “Lear” tetap berasal dari teks asal, tetapi struktur narasi mengalami perubahan dan pembelokan dari struktur teks asal. 2) struktur pertunjukan tetap menggunakan struktur teks asal, tetapi dialog-dialog, bahkan karakterisasi tokoh mengalami perubahan—sesuai dengan perkembangan konteks atas eksplorasi tematik yang terjadi, 3) baik struktur pertunjukan maupun narasi mengalami pengubahan total, sehingga yang tersisa dari teks asal tinggal anasir temanya,  4) transposisi dan lintas genre dalam bentuk atau gaya pemanggungan.

Pada pertunjukan “Lear”, kami akan menggunakan struktur puisi sebagai model induk atau hipogram dramaturginya, baik secara naratif maupun organik. Seperti halnya pada puisi—di mana narasi tak hanya dibangun oleh tema atau cerita, tapi juga oleh metafor, imajeri, simbol, prosodi (rumpang), jukstaposisi, diksi, dan tipografi—maka pada pertunjukan teater “Lear” narasi juga tak hanya disusun oleh cerita, tapi oleh segenap unsur intrinsik pembangunnya; tubuh, gerak, tari, dan vokal aktor, musik, properti dan instalasi benda-benda, cahaya, dan lain-lain. Berbagai khasanah ketubuhan yang berasal dari tradisi sumatera dan beberapa daerah lainnya di nusantara akan kami jadikan sebagai basis atau rujukan gerak bagi para performer. Panggung akan dibagi dalam tiga layer semantik; yang literal, yang metaforik, dan yang simbolik. Pada saat yang sama panggung juga dapat dibagi dan dibaca dalam tiga layer struktur psikis individu seturut psikoanalisa; id, Ego, dan Superego.

 

Langkah Kerja     

Secara garis besar, pendekatan kerja kami dalam membangun “Lear Project” sebagai performatif teks, dibagi dalam tiga tahapan: Konstruktif—dekonstruktif—konstruktif.

Tahap pertama, konstruktif, dimaksudkan sebagai upaya memahami, memaknai sekaligus memanggungkan teks “Lear” sesuai dengan “makna dan pesan asalnya”. Pada tahap ini, struktur pertunjukan sekaligus personifikasi karakter didekati dan dilatih dengan upaya yang sebisa mungkin merujuk pada pada makna dan bentuk yang termaktub pada teks asal. Tugas sutradara dan aktor adalah melayani teks asal dan maksud dari penulis teks. Sistem evaluasi atas keberhasilan pemanggungan dinilai—baik kerja keaktoran, artistik, maupun, penyutradaraan–berdasarkan tolok ukur apakah pertunjukan mampu menghadirkan makna asali teks asal secara “tepat, artikulatif, dan meyakinkan”.

Mengapa tahap ini perlu dilakukan sebelum praktik dekonstruksi dikenakan pada teks—sebab kami percaya bahwa tindak invensi berupa adaptasi, transposisi, intertekstualitas (baik afirmasi, negasi, maupun alusi), dll, hanya bisa secara “benar” dikerjakan jika kita sebagai kreator terlebih dahulu paham dan menguasai konvensi yang inheren termaktub pada teks asal. Tanpa pemahaman dan penguasaan yang tepat pada konvensi, maka tindak kreasi takkan mewujud menjadi invensi, melainkan sekadar tindak kekenesan, asal beda, dan eksentrik.

Saat ini, kami sedang berada pada fase pertama.

Tahap kedua, dekonstruktif, dimaksudkan sebagai upaya lebih jauh untuk membaca, menafsir, dan memaknai teks asal. Eksplorasi, baik pada tema dan bentuk mulai dilakukan. Alih-alih berupaya untuk menemukan dan menyampaikan pesan penulis yang terdapat pada teks asal seperti yang dilakukan pada tahap pertama, maka pada tahap ini setiap aktor (secara personal maupun kolektif) mulai melakukan respon (baik kognisi, afeksi, maupun ketubuhan) melalui improvisasi. Setiap aktor kemudian seperti menyusun kisahnya masing-masing. Lear seperti dilepaskan dari lingkungan asal dari mana ia tumbuh dan berkembang.

Lalu sumber teks dramatik menjadi pecah—tidak lagi semata Rio Kishida dan bahan material teks pun jadi beragam; puisi, cerita-cerita, foto, dan lain sebagainya. Sedangkan yang menjadi titik pijak dari struktur tak lagi “hanya” bergantung pada cerita, tapi juga meditasi terhadap tema atau justru karakter tertentu.  Pada tahap ini, pendekatan terhadap karakter dan peristiwa pemanggungan jadi lebih beragam sebagai konsekuensinya. Struktur berkelindan antara yang psikologis dengan yang komikal, antara gesture keseharian dengan tarian, antara dialog dengan pernyataan, antara yang metaforik dengan yang literal, antara hubungan kausalitas dengan keserentakan, antara yang aural dengan yang visual.

Tahap ketiga, konstruktif, adalah tahap di mana eksplorasi yang dilakukan pada tahap sebelumnya (tahap dekonstruktif) mulai disusun, baik komposisi/aransemen dramatik kisah, pilihan atas bentuk/style, maupun cara pemanggungannya. Revisi mulai dilakukan. Kisah-kisah personal maupun kolektif yang “disusun” para aktor mulai dikumpulkan dan diedit sutradara—untuk kemudian disusun ulang sutradara bagi kepentingan penonton dan kepenontonan. Tahap ketiga ini tidak bisa didesain sendari awal, sebab ia bergantung pada hasil studi dan eksplorasi yang dilakukan segenap tim di tahap dekonstruksi (tahap kedua). Namun biasanya—model pemanggungan akan banyak meminjam bentuk montase, kolase dan jukstaposisi dari tradisi surealisme dan lain-lain.

Share your thoughts